Separuh Hati Untuk Cinta

oleh Ily Fs.

Aku tidak pernah menyangka sedikitpun jika di suatu hari akan duduk berdampingan sedekat ini dengan pria yang kini berada di sampingku. Pria berkaca mata yang selama empat hari telah menciptakan sebuah warna asing yang indah di hatiku. Aku tahu, hatiku telah tertawan pada bening matanya, pada senyumnya yang telah mulai kurindukan bila tiada, pada sosoknya yang sebenarnya tak ku kenal sama sekali sebelum aku berangkat ke negeri orang Melayu ini.

“Rena, aku tahu ini tidak pantas terjadi. Toh aku sudah mendengar semuanya darimu. Semua yang kurasakan ini tidak mungkin kuteruskan. Maafkan aku.”

“Maaf? Atas apa?”

“Atas segalanya yang seharusnya tak pernah ada.”

Aku mendesah dan menoleh padanya. Dua tatapannya menyambut mataku. Membuatku kehilangan alur yang hendak kusampaikan padanya.

“Aku….oh, maksudku, kau tidak pernah bersalah.”

“Jangan hukum aku dengan berkata seperti itu.”

“Lalu aku harus bilang apa?!” tanpa sengaja aku refleks meninggikan intonasi suaraku, untunglah suara mesin pesawat mampu menyainginya, hingga orang di sebelah tempat duduk kami tetap tidak terjaga dari lelapnya. Kini kurasakan bola mata lelaki di depanku semakin tajam menusuk dadaku yang mulai menyesak. “Aku, aku tidak tahu harus mengatakan apa.”

Lelaki itu mendesah, “Rena, banyak hal yang kita inginkan namun tidak dapat kita miliki. Dan bagiku, kau adalah salah satu dari itu.”

“Cukup, cukup, Restu.”

“Tapi aku ingin kau percaya padaku, aku sakit, aku berat berpisah denganmu.”

“Berat? Kau sudah gila Restu. Apa kau lupa ada Nesa? Nesa sangat mencintaimu dan sudah menunggumu di Indonesia.”

Restu tersenyum. Sebuah cekungan bulat di pipinya membuatku teringat pada Mas Danar, kakak tingkatku yang juga memiliki lesung pipi yang indah jika tersenyum. Ah, sedang apa Mas Danar saat ini? Apakah kekasihku itu merasa bahwa saat ini aku teringat padanya?

Sepuluh menit sebelum naik pesawat dariKuala Lumpurtadi, Mas Danar sempat menelfon untuk memastikan kepulanganku keIndonesia. Dialah orang yang setahun lalu mengucapkan cintanya untukku lewat bait puisi yang ia bacakan ketika pesta kenaikan ke kelas XI. Saat Mas Danar menelfon tadi, aku benar-benar merasa bahwa hatiku tengah terbagi dua, karena sementara tangan kiriku menggenggam HP di telinga kiri untuk mendengarkan suara Mas Danar, tangan kananku justru tengah berada dalam genggaman Restu yang saat itu menuntunku menuju tangga pesawat.

Sungguh, seumur hidup aku tidak pernah berkeinginan untuk membagi satu hati yang kumiliki ini, namun seperti yang telah terjadi pada dua tanganku tadi, aku sadar telah benar-benar melakukannya.

Sedangkan Restu, lelaki yang baru ku kenal satu minggu itu bukannya tidak tahu bahwa di hatiku telah ada Mas Danar. Lelaki yang menjadi timku selama acara lomba debat tingkat ASEAN yang diadakan diKuala Lumpuritupun juga telah menceritakan bahwa ia telah memiliki kekasih bernama Nesa. Tapi entahlah, kebersamaan yang hanya terjadi beberapa hari ini telah membuahkan pertalian emosi yang cukup kuat antara kami. Pertalian yang entah apa namanya. Kurasa, hari-hari awalku setelah tiba diIndonesiananti pastilah akan menjadi hari-hari yang berat untuk melupakannya.

Aku tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Mungkin karena Restu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Mas Danar. Yah, keramahan lelaki itu begitu memanjakanku sebagai seorang wanita. Ia memiliki cinta yang indah, cinta yang semakin ganas menggerogotiku setelah kejadian semalam saat kami berdua menikmati semburat lampu Petronas di tepi ruas jalan yang hanya ada aku dan dia disana.

Ketika itu, ia kembali menceritakan wanita bernama Nesa, putri konglomerat yang tak lama lagi akan melanjutkan stuudinya setelah SMA di Kanada. Wanita yang telah membuatku cemburu karena telah berhasil memiliki Arjuna berkacamata ini.

“Bagaimana dengan Danar, Ren? Kau merasa senang bersamanya?” tanyanya malam itu.

Pertanyaan Danar membuatku terdiam lama. Aku ingin mengangguk dan mengatakan ‘ya’, namun entah mengapa aku tidak bisa melakukannya.

Melihatku bimbang, Restu malah tersenyum. Wajahnya mendongak menatap puncak menara kembar yang jauh di depan kami. “Rena, terkadang, bahkan orang yang setiap hari berada dalam dekapan kita justru bukanlah orang yang menjadi bagian dari hati kita.”

Aku mengerutkan kening. Restu lantas menatap ke dua bola mataku. “Jujurlah, apa yang saat ini kau rasakan?’

Aku tergagap mendapat pertanya mendadak semacam itu. “Maksudmu….?”

“Jawablah, apa aku salah bila aku katakana isi hatiku padamu, bahwa aku, aku telah jatuh cinta kepadamu.”

Aku terkesiap mendengar suara yang begitu tegas itu, bukan karena apa yang diucapkannya, tapi karena hatiku sendiri yang mengatakan bahwa hal itupun sebenarnya tengah bersembunyi dalam perasaanku.

Restu mendesah. Ia mengacak rambut cepaknya yang lurus. “Aku tidak tahu cinta apa yang kumiliki ini, yang jelas, sesungguhnya, aku lebih senang berada di sini, dekat denganmu.”

“Apa kau tak bahagia bersama Nesa?”

Restu bergeming seolah tak mendengar pertanyaanku, matanya tetap lurus ke depan.

“Kenapa kau tidak menjawab?”

Restu menghempaskan nafasnya. “Aku cukup bahagia bersama Nesa. Dia bahkan cinta pertamaku sejak di bangku SMU, tidak ada yang kurang dalam hubungan kami.”

“Lantas kenapa kau berkata seperti tadi? Kau ingin memainkan perasaanku?”

Restu menatapku, matanya yang bulat seperti mulut srigala yang ingin menelanku. Aku benar-benar terperanjat ketika dengan cepat Restu menyambar tanganku dan meletakkannya di dadanya. Hening. Beberapa saat aku hanya merasakan degub yang terasa jelas tertangkap oleh ujung-ujung sarap peraba di telapak tanganku.

“Katakan Ren, apa aku keliru jika aku menyangka kau juga tengah merasakan perasaan itu? Kau juga mencintaiku, kan?”

Pertanyaan itu membuatku terperangah. Aku tertunduk tak mampu lagi menatap dua mata yang mendaulat di depanku. Kutarik tanganku dari cengkramannya, namun Restu begitu kuat menahannya hingga tangaku semakin kuat menekan dadanya.

“Jawab, Ren…”

Aku tetap berusaha menarik tanganku tanpa memperdulikan Restu, namun sia-sia, kurasakan degub-degub di dada itu semakin menguat dan cepat.

“Tolonglah, Ren, katakan sejujurnya tentang perasaanmu padaku. Demi aku. Aku rela kalaupun semua perkiraanku tadi salah.”

“Sudahlah Restu. Hentikan semua ini. Ingat, aku sudah memiliki Mas Danar. Lupakan saja semua ini!”

Restu terdiam. Akupun berhenti meronta, kubiarkan tanganku tetap di genggamannya. “Besok adalah jadwal kepulangan kita ke Indonesia, dan semuanya akan berakhir.” Tambahku akhirnya.

Kuberanikan diri untuk melirik seraut wajah di depanku. Dan wajah itu telah berubah sedingin salju. Aku sungguh tak menduga akan berkata seperti yang kukatakan tadi, apalagi dengan suara kasar yang sama sekali bukan kebiasaanku. Wajah pias di depanku membuatku merasa semakin berdosa. Kurasakan perlahan genggaman di tanganku semakin mengendor, ia bahkan menurunkan tanganku dari dadanya. Tapi entahlah, aku tidak mengerti mengapa justru bersamaan itu aku tidak ingin melepaskan tanganku dari tangannya. Aku merasa sangat bersalah, bukan hanya lantaran aku khawatir telah melukai perasaan Restu, namun terlebih karena hatiku menjerit meneriaki kemunafikan yang baru saja kulakukan.

“Pergilah, Ren, kau benar dan aku rupanya yang salah.” Restu membebaskan tanganku, ia kini mempertemukan telapak tangannya di bawah dagu, menopang wajahnya sendiri yang tertunduk, sedang tanganku gamang mengambang di udara. “Maafkan aku. Aku berlebihan menafsirkan hubungan kita. Danar, yah, kau memang miliknya, dan milikku adalah Nesa.”

Diam. Tak ada yang bersuara setelah itu. Namun ketika kutatap lagi mata Restu yang mendongak sesaat, kulihat ada sebuih air di sana.

“Res….kenapa….kenapa…” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku yang hendak menanyakannya, Restu cepat-cepat mengusap matanya dengan ujung lengan kemeja.

Ia tersenyum, tapi aku tahu, ada luka dalam senyum itu. Hatiku sakit. “Maaf, aku tidak bisa mengajak kompromi air mataku. Aku memang cengeng.” Restu mengatakannya sambil tertawa. Suara gelaknya menggema di udara. Sebuah tawa yang bercerita tentang kecewa yang lara.

“Restu….”

“Sudahlah, pulanglah ke hotel lebih dulu. Aku masih ingin sendiri di sini. Kau harus istirahat, besok kita akan terbang kembali ke Indonesia.”

Aku tak beranjak dari tempatku. Kulihat sosok yang selama ini kukenal sebagai orang yang tegas, cerdas, penuh percaya diri dan tak pernah kehabisan bahan untuk menciptakan tawa itu kini begitu rapuh dan terluka. Aku tidak akan merasa sakit bila sosok itu bukan Restu, orang yang seminggu terakhir ini sebenarnya telah mengusik perasaanku dan membayangi posisi Mas Danar di hatiku. Tapi itu memang Retu. Orang yang sebenarnya sangat kucintai bukan karena perhitungan fisiknya, namun karena ada banyak hal yang dia miliki yang selama ini hanya kukhayalkan ada dalam diri Mas Danar. Ia sesempurna lelaki yang ada dalam impianku.

“Hey, kau belum pulang juga? Ayolah, ini sudah larut malam.” Restu melihat arlojinya. “Mungkin sebentar lagi Danar juga akan menelfonmu untuk mengucapkan selamat malam.” Restu mengatakan itu tanpa sedikitpun menoleh padaku.

Aku berdiri. Sepertinya lelaki di depanku yang beberapa menit lalu mengungkapkan cintanya itu memang sudah benar-benar tak menginginkan keberadaanku di dekatnya.

“Kau telah mempermainkan perasaanku, Restu.” Aku mengatakannya sambil membalikkan tubuh. Hampir saja aku melangkah ketika Restu kembali meraih pergelanganku dan membuatku berhenti.

“Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Kau harus tahu, aku sungguh berat melepaskanmu.”

Dadaku bergemuruh mendengarnya. Mataku terasa mengabur, aku berusaha untuk tidak berkedip agar air mata yang telah menggenang memenuhi kelopak mataku tak jatuh di tempat itu.

Ku tarik tanganku seraya berlari meninggalkan Restu. Genggaman tangannya tadi masih terasa lekat seolah menempel di pergelanganku, mengikuti setiap langkah-langkah kakiku. Pintu utama hotel hanya tinggal sekitar sepuluh meter di depanku ketika hujan luruh membarengi air mata pertama yang jatuh di pipiku. Air mata untuk Restu, air mata untuk sesuatu yang hilang sebelum sempat aku miliki.

“Hei, kau menangis Rena? Ada apa?” Pertanyaan Restu di sampingku mengakhiri lamunanku tentang kejadian semalam di Petronas. Aku terkejut menyadari pipiku yang memang telah basah.

“Boleh aku menghapus air matamu?” Restu mengulurkan tangannya ke pipiku.

Aku tak mampu menjawab. Memandang wajahnya pun aku segan. Kuserbu dada lelaki yang tengah menghadap ke arahku itu. Kuletakkan kepalaku di bagian ternyaman di sana dan kutumpahkan segalanya dalam rengkuhan tangan hangatnya.

Kini semuanya terasa terurai sudah. Air mata yang jatuh menderas ini begitu fasihnya menjelaskan segalanya pada Restu.

“Rena, biarkan saja semua ini terjadi, dan biarkan pula ini semua berakhir. Kembali ke Indonesia berarti kembali pada Danar dan Nesa. Kita hanya bisa berharap pada takdir, karena kita tidak mungkin menyakiti orang-orang yang pernah kita cintai. Percayalah, seberat apapun hari ini, kelak, kita hanya akan mengenangnya sambil tersenyum.” Suara bisikan itu membuaiku. Aku larut tak ingin menarik kepalaku bahkan hatiku dari lelaki yang masih mendekapku itu.

Tiba-tiba suara seorang pramugari di pengeras suara mengusik kami, suara itu mengatakan bahwa beberapa menit lagi pesawat akan mendarat dan kami diminta memakai sabuk pengaman. Restu menegakkan badanku. Dan tanpa kuminta, ia telah  memasangkan pengunci sabuk pengaman di pangkuanku. Perlahan kurasakan gerakan pesawat menukik turun. Di tengah kebisuan dan ketegangan, aku masih menoleh pada Restu. “Restu, apa saat ini kau masih mencintaiku?” aku mendengar suaraku sendiri yang terdengar panik.

Restu menoleh menatapku. Ia tersenyum. “Aku ingin mengatakan ya, tapi aku harus mengatakan tidak.”

Aku terhenyak, entah karena jawaban itu ataukah karena kurasakan roda pesawat mulai menyentuh landasan.

“Dan kau tidak usah berbohong menjawab pertanyaan yang sama dariku, karena aku sudah tidak ingin menanyakannya.” Sambung Restu sambil tetap menyungging senyum.

Kami sama-sama diam saat mulai berjalan keluar menuruni tangga pesawat dan menuju ruang tunggu bandara. Restu berjalan tegap di depanku seolah tidak pernah mengenalku.

Sebuah getaran mengusik kantong jaketku. Aku berhenti. Pastilah HP yang baru saja ku aktifkan semenit lalu sudah menerima sinyal yang mengantarkan sebuah SMS untukku.

Ren, Mas Danar sudah di ruang tunggu.

Ku hapus SMS itu tanpa tersenyum, sedangkan Restu ku lihat sudah agak jauh di depanku. Di ruang pengambilan barang bagasi, ia bahkan pergi mendahuluiku tanpa pamit ketika barang-barangnya telah genap.

Akhirnya koper biru berlambang Garuda yang kutunggu-tunggu datang juga. Aku menyeret keluar koper itu dan langsung menuju ruang penjemputan.

“Mas Danar…” panggilku pada seorang lelaki berkaos hitam yang sudah berdiri menungguku.

“Selamat datang, Ren. Aku rindu padamu.”

Aku hanya tersenyum sambil menunduk, menyembunyikan wajahku dari pandangan lelaki di depanku. Aku tidak ingin Mas Danar tahu aku baru saja menangis.

Mas Danar mengambil alih gagang koperku dan menggamit lenganku menuju pintu keluar. Namun baru selangkah aku berjalan, aku berhenti dan menoleh pada suara yang tak seberapa jauh di arah sampingku.

Di sana, Restu tengah menghadapi seorang wanita yang berdiri membelakangiku. Kudengar wanita yang tak dapat kulihat wajahnya itu menggumamkan sesuatu pada Restu, namun aku tahu, Restu sedang tidak mendengarkannya, bola mata lelaki itu tengah menatap lurus ke belakang pundak kekasihnya, dan berpusat tepat di mataku, menyampaikan sesuatu yang membuat hatiku bergetar.

Kurapatkan tubuhku pada Mas Danar, lelaki itu membawa langkahku menjauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s