JARIK

oleh Ily Fs

Kau masih diam seperti hari kemaren. Di tempat yang sama, dalam keadaan yang sama, dengan sorot mata yang sama, dan raut wajah yang sama pula. Tak kau pedulikan baju dan sarungmu yang basah karena menempel pada alas tikar yang terembesi tanah lembab di bawahnya. Sejak siang tadi gerimis memang tak kunjung berhenti. Seperti gerimis di hatimu. Mendungpun masih kelabu sekelabu rambut uban di kepalamu, sesuram wajah tuamu. Hujan yang semalaman tak tertidur masih meninggalkan dingin yang beku. Kau masih saja diam. Dalam duduk pasrahmu, dalam gigil tubuhmu, bersama sesak dadamu, dan sehelai jarik di pangkuanmu. Jarik yang membuatmu terpaku di sudut itu. Jarik yang baru kemaren kau dapat dari sumbangan para relawan gempa yang mengunjungi desa, jarik yang tak biasa, jarik yang telah kau kenal lama. Jarik yang tak pernah kau lupa sehelai benangnyapun. Jarik batik yang dulu indah dan kini telah kian kusam termakan waktu. Seperti juga dirimu.

Banyak hal yang telah terlupa olehmu. Kau tahu, usiamu yang sudah setengah abad itu pantaslah bila sudah mulai letih mengingat semua kenangan masa lalu. Tapi untuk hal yang terlalu berharga bagimu, kau takkan lupa, seperti halnya tentang jarik itu. Ia lebih berharga dari hidupmu, ia lebih dari segala yang kau lebihkan dalam hidupmu. Karena semuanya berawal dari situ.

“ Mbak Jum, anakmu perempuan. Cantik! Sepertimu!”

Kau yang hampir terlelap lantaran lelah yang tak terkira setelah berjuang melahirkan bayi pertamamu kala itu urung untuk tertidur. Wajahmu yang basah air mata merekah bersama senyummu. Seindah bunga mawar kala mekarnya sempurna.

Kau  ingin bangkit, tapi kau masih terlalu lemah.

“ Sayang ya Mbak…, seandainya mas Mul masih….”

“ Shttttt…..” Kau menegakkan jari telunjuk di depan mulutmu, mencegah wanita di depanmu melanjutkan kata-katanya. “ Mas Mul akan tetap bahagia di alam sana. Aku akan menjaga bayi ini, dia takkan kurang apapun. Gusti Allah yang maha welas kasih itu masih ada. Dia yang akan memelihara kami…”

Wanita di depanmu  yang menggendong bayi itu luluh oleh haru yang memenuhi dadanya. Ia mendekat dan meraih tanganmu, menggenggamnya erat dan menatap dua matamu dengan matanya yang berkaca.

“ Kau benar Mbak Jum.”

Kau tersenyum, kau elus genggaman tangan wanita itu dengan sebelah tanganmu yang lain.

“ Asih, tolong ambilkan jarik batikku di lemari. Selimuti anakku, biar dia merasa hangat…”

Wanita yang kau panggil Asih itu menurut. Ia membuka lemari pakaian di sudut ruangan dan menarik sebuah jarik di lipatan terbawah dari tumpukan baju yang tak seberapa jumlahnya.

“ Jariknya terlalu bagus, Mbak. Apa tidak sayang jika hanya untuk selimut? Nanti pasti kena ompol. Eman…”

Kau tersenyum. “ Tidak apa-apa, Sih. Itu jarik pemberian Mas Mul sebelum kita menikah dulu. Memang baru dipakai sekali. Waktu nikah! Dan sekarang barang itu ingin kupakaikan sebagai selimut bayiku, supaya dia merasa kehadiran Bapaknya, sebagai ganti dekapan hangat Mas Mul padanya….”

Asih diam. Ia tak lagi membantah kata-katamu. Jemarinya melebarkan jarik yang masih berbau khas batik itu. Menyelimuti bayi merahmu dan menimang-nimangnya.

“ Sih, Mas Mul pernah bilang, jarik itu bagus kwalitasnya. Tidak gampang luntur. Nanti, kalau si bayi ini sudah dewasa, dan sudah waktunya nikah, aku ingin ia memakai jarik ini. Yah, supaya restu Bapaknya juga mendo’akan kebahagiaannya….”

Asih tertawa, membuatmu mengerutkan kening. Ia meletakkan bayi itu di samping pembaringanmu.

“ Walah Mbak Jum, bayi belum diberi nama saja sudah mau direncanakan nikahnya. ”

Kau kembali tersenyum seraya menyentuh halus pipi bayimu yang kini terlelap di sisimu. “ Menurutmu, bila bayi ini kunamai Wulan, bagaimana? Kelak, aku ingin dia seperti bulan. Yang cantik, anggun, dicintai dan dipuji-puji semua orang, ditulis dalam syair-syair yang indah, dilagukan, dan  yang paling penting, bermanfaat bagi orang lain dengan sinarnya. ”

Asih mengangguk-angguk. Ia asyik terkagum-kagum dengan sebuah nama yang akan kau berikan untuk bayimu. Kau pandangi bayi itu. Ia memang cantik, dan nama Wulan sangat pantas untuknya.

Kemudian selembar nyawa dalam raga kecil yang hidup itupun telah bernama. Sebuah nama yang menyandangkan segala harapan dan do’a. Dan dimulailah jalan perjuanganmu yang panjang, curam dan penuh rintangan untuk menghidupi selembar nyawa itu, kau perkenalkan ia pada Tuhan yang maha kasih, kau perkenalkan pada hidup, pada cinta, pada bahagia.

Dan detik tak pernah berhenti menambah angkanya, menjadi menit, jam, hari, bulan, tahun dan windu. Mata bayi merah yang terpejam itu kini cerlang sempurna, kaki yang dulu lemah itu telah mampu berdiri kokoh, tangan kecilnya yang hanya mampu menggapai-gapai itu kini telah menggenggam sebuah asa yang menuntut untuk diwujudkan. Wulan telah beranjak dewasa dalam waktu delapan belas tahun. Ia telah menjadi remaja dengan segala kebersahajaannya.

Hingga suatu malam, dengan hati-hati kau memasukkan jarik batik milikmu satu-satunya ke dalam sebuah tas pakaian yang hampir penuh.

“ Jarik ini harus kau bawa, Lan. Ini lambang restu bapakmu, juga ibu. Dikotananti, kau harus jaga dirimu baik-baik.”

Wulan yang tengah berkemas untuk keberangkatannya besok diam menekuri pesan ibunya.

“ Hidup di tanah orang, harus tahu diri. Jangan sampai salah melangkah… wanita itu ibarat kaca, kalau pecah, mustahil bisa utuh kembali.”

Wulan menutup tasnya yang telah penuh. Perlahan ia berbalik menghadap padamu yang sejak tadi dibelakanginya. Dipandangnya wajahmu yang kian senja. Ia menemukan cinta disana, cinta yang selalu mendamaikan jiwanya.

Wulan tahu, kau masih berat melepaskannya. Tapi ia juga tahu, kau tak pernah ingin mengecewakannya. Kau hanya ingin selalu membahagiakannya.

Perlahan Wulan merebahkan kepalanya ke atas dua pahamu. Sebuah belaian tanganmu merambati panjang rambutnya.

Tak perlu kata untuk mengungkap cinta, Wulan tahu, diam di antara kalian tengah berbicara, betapa kau dan dia saling tak ingin kehilangan.

“ Bu, apa ibu benar-benar sudah rela aku berangkat keJakartabesok?”

Kau masih diam mendengar pertanyaannya. Hanya tanganmu yang belum lelah membelainya.

“ Kalau ibu tidak ingin aku pergi, aku tidak akan pergi….”

Hening menyambung ucapan lirih Wulan. Kau mendesah. Sepasang matamu menelusuri seraut wajah yang tengadah di pangkuanmu.

“ Wulan…” akhirnya kau berkata lirih. Jemarimu menyingkap beberapa anak rambut yang menutupi sebagian kening Wulan. “ Dalam hidup ini, ibu hanya mencita-citakan satu hal. Dan untuk mewujudkannya, ibu bersedia mengorbankan apapun.”

Ada kabut di matamu.

“ Ibu….”

Kau  menempelkan telunjukmu di bibir Wulan yang hendak berkata-kata.

“ Kau tidak mengerti Wulan, seorang ibu adalah pelabuhan bagi anak-anaknya. Pelabuhan yang setiap saat harus melepas kapal yang akan berlayar, entah jauh atau dekat, lama atau sebentar, pelabuhan yang hanya boleh menyaksikan kepergian, menanti kepulangan dan tidak boleh melarang kapal-kapal itu datang dan pergi, kapanpun, di musim apapun. Dan itulah aku, ibumu, yang akan melepasmu dan kemudian menunggu kepulanganmu. Pergilah. Karena aku tahu, sejauh mana engkau pergi, kau pasti akan kembali, berlabuh kembali di pangkuan ibumu ini…. Aku yakin itu.”

Kata-katamu membuat Wulan terisak. Pangkuanmu basah, seperti juga pipimu yang kau sembunyikan dari pandangan Wulan. Kau masih membelainya, kau sudah tak mampu berkata-kata.

Sebenarnya Wulan tak ingin pergi, tapi ia harus pergi. Ia harus pergi mencari sesuatu yang belum ia miliki. Ia akan berjuang di kota, berbekal ijazah SMAnya yang baru sebulan ia peroleh. Ia ingin melanjutkan sekolah, ingin bekerja apa saja yang mungkin bisa ia lakukan untuk meraih apa yang dinamakan kesuksesan, menjadi orang besar, membahagiakanmu dan semua orang yang dikenalnya.

“ Pergilah Wulan…, dan kapanpun kau ingin pulang, pulanglah…. Ibu menunggumu….”

Kau tidak bisa tidak menangis kala itu, Wulan memelukmu, kalian berangkulan, lama sekali. Tapi akhirnya kau yang menghapus air mata di pipi putri sematawayangmu itu, walau di pipimu sendiri air matamu terus menganak sungai tanpa muara.

Dan ketika matahari terbit di esok harinya, kau saksikan Wulan melangkah pergi meninggalkanmu, dengan lambaian tangannya, dengan senyum yang tak seindah biasanya. Kau tahu dia begitu sedih meninggalkanmu, sesedih dirimu, tapi kau tersenyum mendamaikan kebimbangannya, menegarkan langkah kakinya, memantapkan tekadnya. Hingga ketika ia menghilang dari penglihatanmu, kau hanya memiliki sepi, sunyi dan kesendirian yang mencekam.

Setahun, dua tahun, tiga dan empat tahun, kau selalu ingin hari-hari segera berganti agar hari dimana Wulan datang akan segera tiba. Tapi hari-hari selalu sama, hari-hari menunggu, hari-hari yang lengang, hari-hari tanpa kepastian.

Entah dimana Wulan-mu kini berada. Lambat laun kau mulai menyesal karena dulu telah mengizinkannya pergi dan membuatmu kehilangannya. Kau menangisinya, hatimu selalu memanggil-manggil namanya. Tapi ia tak kunjung tiba. Kabar beritanyapun tidak. Tapi kau selalu yakin kata-katamu pada Wulan malam itu, Wulan akan pulang, Wulan tidak mungkin lupa untuk melabuh padamu.

***

Seorang gadis terpaku memandang layer televise 24 inch di depannya. Ada perih yang kembali menjalari hatinya. Siaran langsung berita lima hari pasca musibah gempa Jogja yang disaksikannya membuatnya tertegun lama.

Jogja, ada sesuatu di kota itu, sesuatu yang takkan mungkin bisa dilupakannya. Ia merindukannya, ia ingin kembali ke kota itu, tapi tidak mungkin. Ia tidak mungkin melakukannya. Ia telah tersesat, ia kehilangan jalan untuk pulang.

Bibir merah gadis itu menghembuskan asap rokoknya. Ia merubah posisi duduk dan mematikan rokoknya yang masih panjang pada asbak di atas meja.

Ia kembali diam, kini ia meraih HP di sampingnya.

“ Halo.” Seseorang mengangkat HP di seberang sana.

“ Sudah kau kirimkan baju-baju dan makanan-makanan yang sudah ku serahkan padamu kemaren lusa?”

“ Mbak Wulan?”

“ Ya.”

“ Beres Mbak. Semuanya sudah langsung tersalur pada para pengungsi.”

Wulan terdiam. Sesuatu berkecamuk di perasaannya.

“ Halo….”

Gadis itu tergagap. “ Oh, ya. Hanya itu. Terima kasih.” Ia mematikan HP dan meletakkannya di atas meja. Sepi menyambung percakapan singkatnya. Hanya suara penyiar berita yang mendominasi suasana.

Tiba-tiba ia menangis terisak-isak. Wajahnya tertelungkup antara dua lutut yang dipeluknya. Bahunya terguncang-guncang. Ia tahu, tangisannya takkan merubah apapun yang tengah terjadi. Ia takkan mungkin lagi mengharapkan sesuatu yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu pulang, pulang ke Jogja, menemui seseorang yang ia yakin tengah menunggunya, menanti kepulangannya.

Bagaimanakah keadaan orang itu kini? Sedang apakah ia di luar sana? Kedinginankah ia dalam tenda pengungsiannya di musim penghujan yang belum berujung ini? Ataukah, ataukah mungkin sosok yang ia yakin telah kian renta itu telah teronggok di suatu tempat, menanti seseorang yang menemukannya…?

Tangis gadis itu semakin menjadi. Suaranya begitu pilu menyayat. Ia ingin sesuatu yang menyambungkan emosinya pada orang yang teramat dicintainya itu, tapi ia tidak memilikinya. Sehelai jarik yang dulu selalu dipeluknya kala merindukan orang itu kini telah tiada. Aroma batiknya yang ia suka tak dapat lagi ia hirup untuk menyembuhkan rindunya. Ia telah mengirimkannya ke kota di dalam layar kaca itu, kota yang kini tengah menangis seperti dirinya, kota yang dirindukannya, kota yang tak mungkin dipulanginya.

Entah di tangan siapa gerangan jarik itu kini berada. Entah tubuh siapa yang tengah diselimuti olehnya. Seorang bayikah yang dihangatkannya, sebuah luka seseorangkah  yang tengah dibalut dengannya, tubuh sakit siapakah yang dialasinya ataukah pula ia tengah basah bersimbah air mata dipelukan seorang wanita yang menangisi kehadiran jarik yang dulu dimilikinya dan telah ia berikan pada orang yang hingga kini teramat dirindu-rindukannya….?

Gadis itu terus menangis, sebuah suara mendengung-dengung di telinganya.

“ Pergilah Wulan…, dan kapanpun kau ingin pulang, pulanglah…. Ibu menunggumu….”

***

“ Mbak Jum…., Mbak…., masya Allah!!!! Mbak!!!” seorang wanita berteriak panik mengguncang-guncang tubuh yang terduduk di sudut tenda.

Enten nopo Mbak Asih?” seorang lagi datang di belakangnya. “ Innalillahi wa inna ilaihi roji’uuun….”

Asih terpaku memandangi sosok tak bergerak itu. Lebih terpaku lagi ketika matanya mengenali sesuatu di pangkuan wanita yang terbujur kaku itu.

Setitik air matanya lantas menetes di atas benda yang kemudian dirabanya dengan tangan bergetar.

Yah, kau telah pergi dalam penantianmu, kau takkan mungkin lagi dapat menangisi kerinduanmu. Kau harus beristirahat. Kau telah lelah. Kau harus kembali pada Yang Memilikimu.

Angin membisikkan sesuatu pada daun-daun kala itu, di sebuah tempat yang lain, seorang gadis tengah mengunci rapat pintu rumah kontrakannya. Ia akan pulang. Ia akan melabuh setelah menempuh jalan yang menyesatkannya jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s