AKHIR TERAKHIR

oleh Ily Fs.

Setetes lagi air mata itu merembesi matanya yang kadang mendelik di antara lipatan-lipatan wajahnya. Tetes itu mengalir, lantas menetap di satu cekungan hingga mengering, walau tak pernah kering, karena satu, satu, air itu terus gugur, berburai, menanti detik-detik akhir yang maha pedih.

Satu hitungan detik laksana sebuah abad yang merangkak. Duhai, betapa ia sudah tidak tahan untuk segera mengakhiri saat-saat akhir ini. Sakaratul maut. Hal yang sepanjang hidup selalu ia khayalkan dengan ketakutan, kekhawatiran dan tanda tanya, ia kah yang di depan matanya kini?

Ada sesuatu yang tertarik dari ujung jemari kakinya. Sakitnya…., ah, tak terkata. Tapak kaki tuanya yang rapuh itulah dulu yang menapaki entah berapa ribu kilo hamparan jalan di muka bumi ini untuk menghidupi anak keturunannya. Tapak kaki yang sudah tertusuk jutaan duri dan tergores kerikil-kerikil tajam kehidupan yang tak berbilang. Dan kaki dengan ketegarannya itu kini telah lumpuh, urat-uratnya tak lagi teraliri darah, tulang belulangnya tak lagi berdaya, beku, mati.

Merambat ke atas, panggung sayonara telah berdiri di antara hati dan lambungnya. Isi perutnya yang sering melilit dan merengek minta diisi itu telah menyiapkan sebuah pesta perpisahan dengan iringan hymne dan eulogi kesedihan, paru-paru yang tak kenal lelah sepanjang hidupnya mengatur keluar masuknya udara itupun sudah mengeja sebaris kalimat ‘selamat tinggal’. Sakit, sakit. Bila ada kata yang lebih dari itu, niscaya sudah kutulis untuk menggambarkan apa yang dirasakannya kini. Tangan rentanya yang bersidekap di dada mengejang, seolah menggapai-gapai mencari pegangan untuk bertahan, mungkinkah tangan-tangan anak-anak yang telah dilahirkannya, yang dengan belaiannya dulu mereka terbuai dan merasai mimpi indah yang damai. Tapi tiada. Sakit itu hanya ia rasakan sendiri. Tiada yang tahu, pun orang-orang yang kini tengah berdiri tertunduk mengerumuni pembaringannya. Mereka semua tidak tahu.

Sesuatu yang ghaib itu kembali tertarik. Ia merintih pedih, menjerit, menikmati pesta yang digelar malaikat maut yang aroma kehadirannya telah menerobos masuk lewat lobang hidungnya, menyesaki paru-parunya, mendirikan seluruh bulu romanya, menghadirkan suatu ketakutan yang maha di jiwanya. Aroma yang akan memberikan kesan penutup tentang hidup singkatnya di dunia. Aroma terakhir yang diciumnya, mungkin.

Dan menyusul organ bawahnya, dada, perut dan seluruh organnya yang telah lelah itu meliburkan aktivitasnya. Hawa dingin menyelinap, beku, mati.

Jum’at, 15 menit sebelum adzan Maghrib 

 

Kini giliran sepasang mata redupnya yang telah memutih dan merabun dimakan usia kian mengabur. Tes. Satu tetes lagi air matanya terjatuh. Yang terakhirkah…?

Tiba-tiba ia rindu suasana merah senja di langit barat. Saat-saat di mana dulu ia dengan setia dan rela membiarkan tubuhnya dicumbui angin pantai demi menunggu sampan suaminya merapat. Ah, ia rindu itu. Sungguh. Apakah senja hari ini adalah senja terakhir pula…..?

Nafas kehidupan sudah terhenti di tenggorokan. Melayanglah pikirnya ke alam mendatang yang sering dibacanya lewat cerita-cerita dalam mushaf dan didengarnya dari para tuan guru saat berceramah. Alam sunyi yang akan dilaluinya sendiri dalam sebuah lubang gelap, sempit, berbekal kafan putih yang meliliti tubuhnya. Disanadia akan menunggu hari, menghitung segala apa yang telah dicatat malaikat atasnya. Oh….., betapa ia masih sangat ragu akan cukup tidaknya bekal yang dimiliki, hingga…, ia…, ia tiba-tiba merasakan ketakutan yang mencekam, mencekik batang lehernya sampai ia semakin merasa sangat sulit mengatur nafas. Ah, andai waktu dapat kembali diputar ke masa lalu, ingin kembali ia mencicipi manisnya rasa mencium sajadah bersama tangis dalam sujudnya. Andai. Hanya seandainya saja, namun tidak pada kenyataannya. Waktu itu kian dekat, tinggal detik, detik.

Tentang sakit, ia sudah merajai dirinya, ia telah mencapai tingkat paripurna. Kini, perjuangan terakhir, seakan sebuah tali meliliti sekujur tubuhnya, bahkan sesekali melecut mencambukinya. Mata lelahnya melotot seolah ingin keluar dari kelopaknya. Udara di sekelilingnya hampa, tulang- tulangnya seakan dipatah-patahkan, diremukkan dengan gada besi. Seluruh bulu pori dan kukunya seolah dicabuti, oh…., kiranya tiada satu sisi terkecil yang tak terlihat sekalipun yang tidak merasakan maha pedihnya gaya malaikat maut membelainya.

Jum’at, sepuluh menit sebelum adzan Maghrib berkumandang….

“ Allah……”

Nafas terakhir itu telah berhembus mengakhiri segalanya, disambut lantunan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Dua seruan di mana setiap muslim hidup di antaranya.

Air mata berderai, kesedihan merebak, keranda disiapkan, demi mengantarkan seonggok jasad yang hendak beristirahat.

Mengenang seorang tercinta yang tengah tertidur tenang di alam sana…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s